Monday, April 18, 2016

Konservatif AS dan Pelanggaran HAM Berat Indonesia





EKSPANSI NARASI KONSERVATIF AMERIKA SERIKAT 
DAN PELANGGARAN HAM BERAT
MASA LALU IDNONESIA.






Semua orang dilahirkan tanpa beban kesalahan. Tanpa kebencian. Tanpa dosa-dosa masa lalu. Semua bayi menangis ketika ia bersentuhan dengan dunia ini. Kalau ia tak menangis, pekerja persalinan akan memaksanya. Karena tidak normal, seorang cabang bayi tidak menangis ketika dia bersentuhan dengan udara nyata. Ia tak bersalah atas di negara atau di keluarga mana ia dilahirkan. Juga tidak bersalah atas kisah-kisah yang kemudian harus ia tanggung hanya karena lingkaran kultur, agama, atau identitas tribalistik lain yang menimpanya. Kemudian ia tumbuh disumpali dengan cerita-cerita tentang manusia-manusia di seberang sana, yang akan melukai, merampas hak-haknya, menolak kemanusiaanya, atau bahkan membunuhnya. Ia alami itu dari sejak ia dapat mendengar. Dan begitu ia dapat membicarakannya, manusia-manusia di sekitarnya akan segera memintanya untuk melakukan konfirmasi bahwa ia berfikir sama, seperti yang lainnya. Bila tidak, ia akan disingkirkan, dikucilkan dan segala sanksi sosial lainnya. Ia harus menerima bahwa manusia-manusia di seberang sana adalah musuhnya. Dan dia harus mau membunuh manusia-manusia itu bila saatnya tiba.



Rakyat Amerika diajari membenci Komunis dan segala "Isme", karena "Isme" akan mengekang dan merampas kebebasan.
Ketika tidak ada cara baginya untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi, maka tidak ada kesempatan baginya untuk memeriksa benar-tidak, dan untuk berada di atas persoalan. Dia terpaksa menjadi bagian dari persoalan. Sedikit orang yang beruntung berhasil keluar dari penjara naratif hidupnya. Tapi sebagian besar tidak.

Sementara sebagian manusia yang lain benar-benar paham situasi ini, bahwa ketidak-tahuan dan keterjebakan manusia ini dapat di-eksploitasi untuk kepentingan kekuasaan. Kekuasaan untuk mengendalikan hidup orang lain, agar dapat bekerja demi tujuan-tujuan keuntungannya. Ini terjadi di Amerika Serikat, sebagaimana juga terjadi di Indonesia, dan seluruh dunia. Semua orang adalah korban. Dan di Indonesia, sesama korban masih dibenturkan hingga sekarang.

Bagi semua korban, dari kedua-belah pihak, sekarang waktunya Anda memilih: Tetap menjadi Korban, atau mulai diskusikan apa yang terjadi, sebenarnya.

McCarthyism is the practice of making accusations of subversion or treason without proper regard for evidence. It also means "the practice of making unfair allegations or using unfair investigative techniques, especially in order to restrict dissent or political criticism."
Terminologi “McCarthyism” adalah cara2 curang yang dipakai untuk menjatuhkan lawan politik dengan tuduhan tak beralasan dan tak berbukti, yang berlangsung di Amerika Serikat, pada tahun 1950 sampai 1956. Pada saat itu tengah berlangsung sebuah program gerakan anti komunis yang dimotori oleh senator Joseph McCarthy dari partai Republik. Gerakan anti komunis ini dikenal dengan sebutan, the Red Scare. The Red Scare dan McCarthyism kemudian menjadi gagasan yang bisa dikatakan salah satu yang paling berpengaruh terhadap geopolitik dan kultur politik dunia sejak saat itu, sampai sekarang.


BANGKITNYA KONSERVATISME DI AMERIKA SERIKAT.

“Konservatisme Modern” di Amerika Serikat berangkat sejak pertengahan tahun 1930, terutama mengendarai arus reaksi terhadap angin perubahan yang dibawah oleh the “New Deal”, yang terutama adalah tentang penguatan serikat buruh dan demokratisasi.



New Deal adalah rangkaian program sosial, politik dan ekonomi yang berlangsung di AS antara tahun 1933-1938, dan beberapa saat setelahnya. Bentuknya adalah beberapa kebijakan yang dikeluarkan baik oleh Kongres dan Keppres selama awal pemerintahan Franklin D. Roosevelt. New Deal adalah solusi untuk merespon Great Depression di Amerika Serikat, yaitu sebuah krisis ekonomi yang terjadi sejak Agustus 1929 sampai Wall Street mengalami crash pada bulan Oktober 1929. Crash-nya Wall Street ini memicu pengangguran, kemiskinan, deflasi dan lain-lain, sebagai sebuah kehancuran ekonomi besar-besaran di AS.



Dalam New Deal, kebijakan dalam negeri dan luar negeri Amerika Serikat menjadi liberal; dengan adanya bantuan bagi orang miskin, recovery ekonomi dan reformasi sistem finansial. New Deal mengubah polaritas politik membuat partai Demokrat menguasai White House sebanyak 7 dari 9 kali pemilihan umum selama 1933 s/d 1969. New Deal pro kepada ethnik minoritas dan serikat buruh. 


MEDIA mainstream pada saat itu dikuasai anti-liberal, dan menjadi opposan New Deal. Robert McCormick, pemilik Chicago Tribune, menyamakan New Deal dengan Komunisme. Dia juga menolak masuknya Amerika dalam PD II membantu Inggris. Juga menentang Liga Bangsa Bangsa, dan International Court of Justice. Jadi narasi anti “Internationalist”, anti sosialis, anti komunis dan anti liberal, sudah ada saat itu. Hampir semua penerbitan preferensinya pada Alf Landon.

Di Amerika, The Beatles adalah Alat
penyebaran Komunisme. Di Indonesia
sebaliknya.
Partai Republik terbelah antara yang mendukung dan membenci New Deal dengan menganggapnya memusuhi bisnis dan pertumbuhan, sesuatu yang masih terbawa sampai era saat ini. Polarisasi politik kemudian mengkristal pada dua posisi: Koalisi New Deal, yang mendominasi pemilihan presiden sampai tahun 1960, dan Koalisi Konservatif yang mendominasi Kongres antara tahun 1939 dan 1964. 

Antara tahun 1935-38, New Deal semakin lebih mengerucut pada prinsip-prinsip liberalisme, dengan mempromosikan serikat buruh, Works Progress Administration, WPA – program dimana pemerintah memperkerjakan masyarakat untuk meningkatkan ekonomi, Social Security Act yang memberikan bantuan terhadap petani penggarap dan pekerja migran, serta pendirian agensi federal, United States Housing Authority, USHA, yang bertugas menjalankan program perumahan rakyat berupa pinjaman uang bagi negara-nagara bagian atau komunitas untuk perumahan murah, serta Fair Labour Standards Act of 1938, yang menentukan jam kerja maksimal dan gaji minimum bagi buruh pekerja. 

Tahun 1937, saat terjadinya kejatuhan ekonomi terburuk, diterbitkan Conservative Manifesto yang menyatukan kekuatan melawan Roosevelt. Sementara kaum kiri mengalami perpecahan, yaitu terpecahnya organisasi buruh AFL (American Federation of Labor) yang beraliran liberal. Pecahan dari AFL membentuk CIO (Congress of Industrial Organization) yang lebih “kiri”. CIO mendukung Roosevelt dan lebih akrab dengan Afro-American dan issuenya. Kejatuhan ekonomi terburuk tahun 1937 terus berlangsung sampai 1938, menyebabkan Konservatif meraih kenaikan pamor di Kongres tahun 1938. Dan sejak tahun 1939, polarisasi politik di Amerika Serikat semakin mengerucut sehingga akhirnya mereka yang mendukung New Deal disebut “Liberal”, dan yang melawannya disebut “Konservatif”. 

Pada tahun 1942-43 kaum Konservatif mematikan program2 bantuan dan menahan proposal-proposal Liberal. Roosevelt memindahkan fokus pada perang dunia kedua yang baru saja dimulai, dan ia memenangkan pemilihan ulang tahun 1940 dan 1944. Seusai perang, situasi lebih menguntungkan bagi Konservatif, sampai akhirnya pada tahun 1947, Conservative Union menerbitkan Labor Management Relations Act untuk membatasi aktifitas serikat buruh, dan berhasil disyahkan walaupun telah di veto oleh presiden Truman. Oleh aktifis buruh, UU baru ini disebut “Undang-undang Perbudakan”.

Pengaruh Uni Soviet dan geopolitik selama dan paska Perang Dunia 2.

Sementara itu, di “luar sana”, rakyat Amerika merasa iklim seolah-olah semakin buruk bagi Amerika Serikat. Dan berita berita ini dimanfaatkan untuk fear mongering, menakut2i rakyat Amerika.
  • Perang Dunia 2 di Eastern Front mempromosikan kekuatan militer Uni Soviet.
  • Bahwa perang dunia 2 bukan saja pertandingan militer, tapi juga dianggap pertandingan Ideologi. Dalam hal ini, “Komunisme” Uni Soviet versus “Master Race” German.
  • Kesuksesan Uni Soviet di teater Eastern Front dengan demikian ditakuti sebagai kemenangan ideologi Komunisme.
  • Tahun 1949, Uni Soviet melakukan tes bom nuklir, dan Mao Zedong berhasil menguasai China. Menebarkan ketakutan dan confirmation bias pada masyarakat Amerika bahwa dunia di luar Amerika, dunia internasional, sudah dikuasai Komunis, sama persis seperti bagaimana pemerintahan Korea Utara sekarang menakut2i rakyatnya bahwa dunia di luar sana adalah Amerika yang akan menghancurkan Korea.
  • Tahun 1950-53, Perang Korea.

McCarthysm.
Joseph McCarthy memanfaatkan situasi naiknya pamor Konservatif dan ketakutan mereka dengan menyebarkan gossip, “kabar-burung”, ketakutan atas dunia luar, perjudice dan intimidasi untuk menjadikan dirinya figur yang kuat dan ditakuti dalam dunia politik AS. 

- Pada perang Dunia 2, dia masuk Marinir dengan harapan status Veteran akan mendongkrak karir politiknya. McCarthy memalsukan surat rekomendasi yang tampak ditanda-tangani oleh Admiral Chester W. Nimitz. Dia menceritakan luka di tubuhnya adalah bekas-bekas pertempuran, selamat dari pesawat jatuh dan tembakan anti-udara, yang padahal adalah luka akibat kecelakaan di kapal dalam sebuah upacara peringatan. Ini diketahui jauh dikemudian hari.

- Dalam pemilihan tahun 1946, dia memenangkan kursi senat dengan mengalahkan Robert La Follette Jr, dengan menuduh bahwa La Follette tidak patriotik, tidak nasionalis, karena tidak ikut perang dunia 2, padahal La Follette sudah berumur 46 saat Pearl Harbor di bom, yang artinya sudah lewat batas umur enlisting. Taktik demagoguery ini berhasil, sesuatu yang kemudian terus dipakainya, sebuah metode yang sukses baginya untuk mencapai pengaruh dan kekuasaan.

- Pada tahun 1950, di acara peringatan Abraham Lincoln, Joseph McCarthy muncul tiba-tiba kedalam sorotan ketika dia menggunakan lagi muslihat demagoguery ini dengan melakukan klaim bahwa ia punya daftar anggota partai komunis dan lingkaran mata-mata yang bekerja di State Department, sebuah badan hubungan Internasional, Amerika Serikat. Menggali ketakutan umum terhadap “internasional” dan “komunis” di luar Amerika, yang ingin menghancurkan Amerika. Tentu saja tuduhan ini tidak punya bukti dan merupakan logical fallacy, tapi fallacy kenyataanya bekerja dengan baik dalam iklim yang telah penuh dengan ketakutan dan irrasionalitas.

Telegram McCarthy pada presiden Truman.

- McCarthy segera menjadi headlines, diblow up oleh media yang memang mayoritas dikuasai konservatif. Selanjutnya, ia menyebarkan tuduhan-tuduhan infiltrasi komunis di State Departement, pemerintahan Harry S. Truman, radio Voice of America dan Angkatan Darat Amerika Serikat. 

- Dia menyerang sejumah politisi dan individual di dalam dan di luar pemerintahan, dengan tuduhan-tuduhan “Komunis”, “Simpatisan Komunis, Tidak Setia, atau Homoseksual.

- Dia juga menjalankan sebuah scare yang lain, yang disebut “Lavender Scare”, yaitu rangkaian ancaman dan tekanan pemecatan terhadap sejumlah pejabat untuk dipublikasikan sebagai homoseksual. 

Perburuan komunis ala McCarthy kemudian terjadi pada serikat-serikat buruh, sehingga serikat buruh kehilangan suara. Tuduhan komunis jadi begitu ditakuti sehingga membungkam kaum Liberal, untuk menghindar dari tuduhan Komunis. Bahkan buku kisah “Robin Hood” sampai ditarik dari perpustakaan, karena ide “mencuri dari si kaya dan memberi pada yang miskin” dianggap komunis. Para politisi tak dapat membuka hubungan diplomat dan para pebisnis harus menutup usaha dengan China. Dan segala usaha analisis atau dialektika intelektual akan dianggap komunis.


Guru, professor dan intelektual di kampus-kampus
adalah penyebar Komunisme juga. Orang tua
diharapkan menyingkirkan mereka dari
sekolah dan universitas.
Permusuhan terhadap isme.

Dalam propaganda-propaganda anti-komunisme, dibawa sebuah pesan bahwa yang menyerang Amerika bukan saja komunis, tapi juga semua yang berakhiran “Ism”. Karena gagasan dan pikiran intlektual umunya menggunakan “Ism” sebagai akhiran kata labelnya, maka pesan ini mengajak masyarakat Amerika untuk memusuhi semua Ism. Semua pikiran dan gagasan yang menggunakan kata Ism adalah musuh Amerika, yang akan menguasai, meracuni dan merampas kebebasan kehidupan orang Amerika. 

Permusuhan terhadap Liberalisme dan pikiran progresif.

Karena masyarakat (konservatif) Amerika percaya bahwa isme, sebagai gagasan inelektual, akan membunuh dan menghancurkan Amerika, maka mereka percaya bahwa untuk menghancurkan Komunis, maka segala pikiran dan politik progresif harus dihancurkan, dalam hal ini pikiran2 dari kaum Liberal.

Presiden Harry S. Truman menerbitkan Executive Order 9835, alias “Loyalty Order”, 21 Maret 1947, yang melakukan bersih sosial pada seluruh pegawai federal, untuk menentukan patriotisme atau loyalitas pada pemerintah. Ini mengejutkan kultur Amerika Serikat, karna aktfitas ini melawan konsep kebebasan individu dan kebebasan berorganisasi. Bagi masyarakat konservatif, ini adalah pelanggaran besar atas pikiran libertarian yang mereka anut, dan seolah2 menjustifikasi ketakutan mereka, karena negara yang mengekang individu bagi mereka dekat dengan atau sama saja dengan komunisme. 

PERUBAHAN / PERGESERAN KELAS MENENGAH.

Perubahan yang menguntungkan lingkaran konservatif.

Paska kemenangan sekutu tahun 1945, terjadi perubahan sosial-politik di Amerika Serikat yang terdorong oleh pertumbuhan ekonomi yang pesat, yang diwajahi oleh kemenangan simbol-simbol yang digunakan konservatif. Mereka yang terlibat dalam perang, berupa anak-anak muda yang enlisted dalam Perang Dunia II berasal dari kawasan rural yang relatif miskin, digambarkan sebagai patriot yang membela “ideologi” konservatif Amerika Serikat, yaitu teori political-economy laissez Faire, sebuah gagasan libertarian. 

Laissez Faire, atau membiarkan saja orang berbuat sesukanya dalam ekonomi tanpa intervensi pemerintah, adalah pendekatan konservatif terhadap revolusi industri di Amerika Serikat sejak tahun 1870. Laissez Faire kemudian menjadi problem ketika mulai banyak bisnis bersaing, dan yang terjadi justru adalah penyusutan kompetisi, karena banyak pelaku bisnis melakukan abuse dan persaingan menjadi tidak sehat. Kegiatan Laissez Faire jadi membooming di Amerika Serikat sejak pertumbuhan ekonomi pada tahun 1920-an, yang justru kemudian menyebabkan collapse nya kembali perekonomian pada 1930-an.

Karena itu pada era Franklin D. Rossevelt dan Wodrow Wilson, pandangan publik secara rasional bergeser pada kebutuhan adanya antitrust, atau aturan main dalam bisnis untuk menjaga keberlangsungan kompetisi pasar dengan mengatur kegiatan-kegiatan yang anti-kompetisi oleh perusahaan. Kegiatan anti-kompetisi tersebut, diantaranya, child labor, eksploitasi buruh melalui jam kerja yang panjang, dan lingkungan pekerjaan yang tidak aman. Prinsip-prinsip ini dibawa oleh kelompok Liberal dalam pertandingan ekonomi politik di Amerika Serikat, melawan Laissez Faire dari kaum Konservatif yang libertarian. Berbagai kebijakan liberal inilah yang dimanifestasikan dalam New Deal, yang menjadi pusat konflik saat itu. Efek New Deal membuat pertumbuhan ekonomi yang kembali melesat, dan serikat buruh di Amerika Serikat menjadi kuat. Industri berlangsung dan berkelanjutan. Dan alam industri ini mulai membawa Amerika sebagai kekuatan ekonomi yang sangat berpengaruh di dunia.

Pengangguran perang.

Kondisi darurat pangan selama PD II, “Wartime Rationing” dicabut bulan September 1945, tapi kesejahteraan belum datang sampai tiga tahun kemudian. Ada 12 juta veteran perang dunia 2 yang pulang ke rumah, dan butuh pekerjaan yang belum tersedia. Terjadi inflasi, sementara bahan2 mentah untuk industri yang baru saja terkuras perang menyebabkan industri manufaktur terhambat.

Serikat-serikat buruh melancarkan protes dan mogok, dan ditambah konflik rasial dimana pekerja Afro-Amerika yang banyak mengambil lapangan pekerjaan selama Perang Dunia 2 dituntut agar menyingkir dari lapangan pekerjaan oleh veteran yang baru pulang dari perang.

Ketika perang dunia 2, perempuan menjadi tulang punggung industri Amerika Serikat, dan mereka juga segera disingkirkan dari kantor dan pabrik, untuk memberi tempat pada suami-suami yang pulang perang. Tahun 1946 sekitar 4 juta perempuan dipecat dari pekerjaannya, dan sebagian dari mereka kembali pada pekerjaan gaji rendah yang mereka punya sebelum perang.

Tahun 1946 kaum konservatif (Republikan) berhasil menguasasi Kongres dan Presiden Truman dipaksa mengurangi pajak dan mengurangi regulasi-regulasi ekonomi, karena “ideologi” para konservastif ini adalah Laissez Faire libertarian, yang menuntut sedikit mungkin intervensi negara terhadap kehidupan sosial.

Para prajurit yang baru pulang ini pun diuntungkan oleh Servicemen’s Readjustment Act 1944, dimana negara memberikan modal kredit rumah murah, penjaman rendah bunga, pembayaran edukasi, pembayaran kebutuhan hidup untuk masuk universitas atau SMA, dan kompensasi pengangguran selama 1 tahun, selama belum dapat pekerjaan.

Undang undang ini, walaupun demikian, hanya menguntungkan laki-laki kulit putih yang pulang dari perang, karena pada prakteknya, tidak sedikit warga Afro-Amerika yang, walaupun juga veteran, tapi tidak mendapatkan benefit tersebut, terutama karena Departemen Urusan Veteran Amerika (US Departement of Veteran’s Affair atau VA) lebih berafiliasi pada asosiasi veteran kulit putih seperti American Legion dan Veterans of Foreigns Wars.

Kelas Menengah Baru.

Lingkungan veteran perang laki-laki kulit putih ini sebelumnya berasal dari rural area dan berafiliasi dengan Konservatisme. Dengan benefit dari UU veteran, mereka segera tumbuh sebagai kekuatan pasar yang baru, menggelembungkan kelas menengah yang kuat, dan berafiliasi Konservatif. Mereka membangun kelas menengah konservatif, dengan ciri-ciri kehidupan Sub-Urban. Sejak tahun 1950, terjadi consumer spending yang besar terhadap perumahan, kendaraan dan peralatan rumah tangga dengan disosialisasikannya suburban life. Berikut disosialisasikannya kehidupan sub-urban sebagai potret kehidupan ideal dalam pandangan konservatif, dengan istri di rumah mengurus rumah tangga dan anak, sedangkan suami bekerja dan memenuhi kebutuhan hidup.

Kepentingan atas struktur kelas menengah baru ini didorong oleh kepentingan Industri. Untuk memahami ini, kita harus melihat bagaimana human resources sebagai tulang punggung industri harus memenuhi kebutuhan konfigurasi “permesinan” Industrialisasi, dan bagaimana hal ini memulai apa yang disebut “Gender Politics”, Poltik Gender.

Ketika awal revolusi Industri pada abad 19, segera disadari kebutuhan adanya pemisahan antara kehidupan manusia dan kehidupan produksi Industri. Sebelum abad 19, means of production para peasants dan pekerja adalah di rumah. Revolusi Industri memindahkan means of production ke pabrik, sehingga tejadi pemisahan antara sphere (ruang) produksi / publik dan sphere domestik / privat. Ini dikenal dengan ideologi Separate Sphere: Ruang publik, dan ruang domestik.

Gagasan Separate Sphere adalah, bahwa laki-laki, berdasarkan struktur biologis dan “kehendak Tuhan” hidup dalam public sphere, dengan habitat dunia politik, ekonomi, perdagangan dan hukum. Sedangkan perempuan “proper sphere”, adalah ruang privat dengan habitat kehidupan domestik, melahirkan dan mengurus anak, serta pendidikan agama. Ideologi Separate Sphere mengasumsikan bahwa laki-laki dan perempuan berbeda secara inheren dan bahwa peran gender bersifat natural, 

Relasi Gender pra-industrialisasi.
Perempuan dan laki-laki bekerja di rumah.
TIdak membutuhkan pemisahan habitat
laki-laki dan perempuan.
Separate Sphere sudah jadi ideologi lama dalam budaya barat, namun revolusi industri menghadirkan lingkungan dimana ideologi ini kemudian bermanifestasi praktikal dengan skala yang luas dan kongkrit, karena pemisahan dunia manufaktur sebagai means of production yang sebelumnya menjadi satu dengan kehidupan domestik, kemudian benar-benar mengalami pemisa
han baik secara fisik maupun gagasan.

Separate Sphere menyebabkan isolasi perempuan dalam ruang domestik, dan kemudian melahirkan Cult of Domesticity, alias Cult of True Womanhood sebagai gagasan atas sebuah sistem nilai baru terhadap feminitas perempuan, berupa empat kesucian kardinal: Kepatuhan, Kesucian, Kerumah-tanggan dan Keberserahan. Gagasan feminitas baru ini secara umum dikembangkan oleh masyarakat kulit putih Kristen-Protestan di daerah New England dan Amerika Timur-Laut, yang secara mendasar adalah tentang posisi perempuan sebagai pusat keluarga dan “cahaya rumah tangga”.
Relasi gender paska Industrialisasi.
Perempuan dan laki-laki menempati
habitat yang berbeda.

Perlu diperhatikan bahwa nilai ini tidak berlaku bagi perempuan kulit hitam, perempuan buruh terutama buruh rumah tangga, dan perempuan imigran, yang secara otomatis dianggap tak layak disebut “perempuan sebenarnya” karena sudah langsung mendapatkan prasangka sosial.

Analisa ekonomi-politik dari gagasan ini, dengan mengabaikan narasi propagandanya, bahwa pusat keluarga dan “cahaya rumah tangga” ini, kerena kesucian posisinya, tidak perlu dibayar, sehingga otomatis seorang istri adalah pekerja domestik tanpa-bayar. Artinya cost of production dari ekonomi industri menjadi murah. Dengan kata lain, industrialisasi tersokong oleh kerja gratis kaum perempuan. Narasi politik sistem ini tentu saja bahwa industri dan ekonomi bisnis adalah kepentingan keluarga, sebagai sel masyarakat yang membutuhkan penghidupan. 

Padahal yang sebenarnya terjadi adalah sebaliknya; industri dan ekonomi bisnis membutuhkan sumber daya manusia untuk hidup, dan untuk keberlangsungannya, dibutuhkan manusia yang menggerakan kedua sphere: domestik dan publik, yang tentu saja jauh lebih murah bila cost produksi hanya pada salah satunya saja: yaitu ruang publik tempat industri berhabitat, dengan penghuninya: para suami, para laki-laki. 

Dan narasi domestic sphere yang didukung oleh agama konservatif tentang perempuan, sangat membantu Industrialisasi untuk mencapai efisiensi biaya ini. Istri yang patuh, suci, mengurus rumah tangga dan submisif tentunya adalah cahaya keluarga yang tidak perlu dibayar. Cukup dihidupi saja oleh laki-laki anggota ruang publik—satu-satunya ruang yang dipedulikan Industri.

Gagasan ini menyatukan dua kepentingan yang berbeda, Konservatisme dan ekonomi Industri yang di Amerika berangkat dengan gagasan libertarian. Karena itu industri libertarian menyukai masyarakat konservatif, dan memusuhi masyarakat “kiri”, liberal, socialist dan, apalagi, komunis. Industri libertarian memusuhi gagasan liberal karena tuntan hak-hak manusia, termasuk hak-hak perempuan, menyerang cost produksi. Memusuhi gagasan sosialis karena ia pada dasarnya tak suka diintervensi negara. Dan tentu saja memusuhi komunis, karena dua alasan: Negara dan Marxisme.

Karena Marxist punya ide yang hampir 180 derajat tentang industri dan kapitalisme. Walaupun banyak orang menerjemahkan bahwa Marx membenci Kapitalisme, saya akan berargumen bukan itu sebenarnya. Marx membenci Kapitalisme yang terjadi, karena Marx melihat Kapital sebagai relasi ekonomi antar manusia, dan mengkritik bahwa industrialisasi yang berkembang telah merubah Kapital menjadi relasi ekonomi antara manusia dan benda. Jadi Marx punya gagasan yang berbeda tentang Kapitalisme. Marx menganggap industri harus menempatkan manusia sebagai pusatnya, bukan sebaliknya, industri sebagai pusat kehidupan manusia. Industri harus memenuhi kepentingan manusia dan relasi antar manusia, dan bukan sebaliknya, manusia dan relasi antar manusia (termasuk relasi gender) yang dibentuk dan disesuaikan untuk memenuhi kepentingan industri.

Jadi apabila liberalist dan socialist menjadi sekedar ancaman efisiensi bagi industri ala libertarian, maka Komunisme menjadi ancaman eksistensi (existential threat) bagi mereka. Ini mengapa konservatif merasa Komunisme dan gagasannya bukan saja harus dihentikan, namun juga dilenyapkan.

PERUBAHAN ARUS-UTAMA POLITIK AMERIKA SERIKAT.

Perubahan mainstream politik Amerika Serikat dapat kita ikuti dengan mengamati Lionel Mordecai Trilling, seorang pemikir politik, kritkus sastra, penulis dan guru. Ia adalah seorang Marxist Anti-Stalin; Anti Stalin adalah posisi seorang Marxist yang menentang interpertasi Stalin atas penerapan politik Marxist.

Pada awal karirnya, ia menulis ini:

In the United States at this time Liberalism is not only the dominant but even the sole intellectual tradition. For it is the plain fact that nowadays there are no conservative or reactionary ideas in general circulation. This does not mean, of course, that there is no impulse to conservatism or to reaction. Such impulses are certainly very strong, perhaps even stronger than most of us know. But the conservative impulse and the reactionary impulse do not, with some isolated and some ecclesiastical exceptions, express themselves in ideas but only in action or in irritable mental gestures which seek to resemble ideas.

“Di Amerika Serikat, pada saat ini, Liberalisme bukan saja yang dominan, tapi juga satu-satunya tradisi intelektual. Karena adalah fakta sederhana, bahwa belakangan ini tidak ada gagasan dari para konservatif atau para reaksioner yang beredar secara umum. Ini bukan berarti, tentu saja, bahwa tidak ada dorongan untuk konservatisme maupun reaksioner. Dorongan semacam itu jelas sangat keras, bahkan mungkin lebih keras dari apa yang kebanyakan dari kita tahu. Tapi dorongan konservatif dan dorongan reaksioner—dengan beberapa pengecualian terbatas--tidak mengekspresikan diri berupa gagasan, melainkan hanya dalam tindakan atau dalam perilaku mental yang menggelikan, yang berusaha tampak seolah-olah suatu gagasan.”

Tapi dalam pertengahan karir, dia secara gradual tampak memeluk neo-konservatif, dan karya-karyanya dianggap pro pada pikiran neokonservatisme. Dan pada akhirnya, dia dianggap sebagai moderat, karena ia juga sering mengkritik posisi Libertarian yang menuntut kebebasan mutlak lepas dari kewajiban sosial yang dianggapnya seperti tuntutan seorang anak kecil, dan juga mengkritik posisi libertarian yang mengasumsikan kebertanggung-jawaban mutlak individual, seolah-olah seorang manusia bisa sesuci “Tuhan”.



Tulisan Lionel Trilling dapat menggambarkan apa yang terjadi di Amerika Serikat paska kebangkitan Konservatisme di Amerika Serikat, dan saya akan berargumen bahwa argumen Trilling berhasil menggambarkan fenomena konservatisme yang sebenarnya.



Segera setelah tulisan Trilling, seolah-olah terprovokasi, barulah buku2 dan tulisan yang mencoba memformulasikan gagasan tentang konservatisme bermunculan. The Case for Conservatism terbit tahun 1951 ditulis oleh Francis Wilson, yang menggagas bahwa konservatisme adalah “sebuah filosofi evolusi sosial, dimana sejumlah nilai-nilai yang bertahan dipertahankan dari tekanan konflik politik, dan bila nilai-nilai tersebut terancan, seorang konservatif bahkan bisa menjadi revolusioner.” Gagasan ini tentu adalah sebuah kontradiksi karena mengatakan, bahwa, mempertahankan suatu nilai agar tetap seperti sediakala adalah sebuah tindakan perubahan, atau, mempertahankan diri agar tidak bergerak adalah sebuah gerakan.



Sejumlah buku lain juga muncul tahun-tahun selanjutnya, dan satu yang sangat berpengaruh bagi konservatisme Amerika, adalah Atlas Shrugged karya Ayn Rand, yang kemudian seperti menjadi kitab suci bagi konservatisme libertarian Amerika Serikat. Salah satu gagasan Ayn Rand adalah “rational selfishness” yang merupakan penentangan keras terhadap Altruism. Altruism adalah sebuah gagasan sentral liberalisme, yang menggagas selflessness (tidak mementingkan diri sendiri) dan praktik empathy dan perhatian terhadap kesejahteraan orang lain. Kita bisa perhatikan bahwa tidak semua konservatif menyukai Atlas Shrugged, dengan menganggap bahwa karya tersebut adalah pesan obyektivist yang adalah kebalikan Agama. Walaupun demikian, gagasan dasar libertarian, yang adalah “mementingkan diri sendiri secara rasional” tetap menjadi dasar pikiran konservatif terutama era saat ini.

Ketiadaan, atau kalau boleh dikatakan, kegagalan literasi Konservatif Amerika Serikat—dan saya akan berargumen juga di seluruh dunia—sebetulnya telah menjadi bukti hidup dari pikiran Lionel Trilling. Saya akan melanjutkan pikiran tersebut dengan mengatakan bahwa Konservatisme, seperti juga Kapitalisme, adalah sebuah force of nature, atau kuasa alam. Tidak ada seorang pun yang menggagas konservatisme atau kapitalisme. Bila dikatakan, misalnya, Adam Smith sebagai “bapak” kapitalisme, maka ia hanya memformulasikan gagasan tentang fenomena yang sudah terjadi. Dan walaupun banyak tokoh konservatif, mereka hanya memberikan justifikasi dari sebuah kecenderungan manusia untuk bertahan pada apa yang ia tahu, dan kecendurangan ini mendorong ketakutan terhadap perubahan. Demikian takutnya, hingga seringkali berperilaku defensif. 

Karena konservatisme bukan sebuah gagasan, maka ia tidak perlu diperkenalkan. Ia adalah posisi default dari kemasyarakatan. Sebaliknya, perlu upaya keras untuk memperkenalkan gagasan baru, dan seringkali mengorbankan pengagasnya. Tapi saya juga akan berargumen bahwa perubahan, juga, adalah sebuah force of nature. Pemikir, penggagas dan agensi perubah muncul secara alamiah dan melakukan perubahan. Kita bisa lihat ini dari fakta bahwa situasi manusia selalu berubah dari jaman ke jaman. Artinya walaupun konservatisme adalah default, ia selalu adalah posisi bertahan pada suatu produk perubahan yang terjadi sebelumnya, yang selalu mengalami kekalahan, karena apabila tidak demikian, tulisan ini tidak akan pernah saya tulis, dan kita semua masih duduk2 mengelilingi api unggun di tengah hutan, di pelataran sebuah gua, sambil menikmati daging panggang dan biji-bijian yang dikumpulkan dari semak-semak tak jauh dari situ.


Kenyataanya perubahan selalu terjadi melalui tug-of-war yang secara gradual selalu dimenangkan oleh perubah. Oleh karena itu, bisa kita katakan bahwa perubahan adalah natural. Karena perubahan adalah sesuatu yang natural dan wajar, maka kita bisa melihat anomali yang terjadi, yang melawan kewajaran dari perubahan. Yaitu regression, atau kemunduran. Saya akan berargumen, bahwa regresi dapat dikenali dan secara rasional dipahami sebagai sesuatu yang melawan perubahan alamiah dari peradaban atau kultur, yaitu dengan mengamati dorongan untuk kembali pada suatu situasi keberadaan yang melawan necessity suatu kultur.



Perubahan selalu terjadi karena nessesitas, karena impuls sosio-ekonomi yang mendorong suatu kultur untuk berubah. Dinamika sosial politik selalu secara natural mengadopsi nesesitas ini. Bahkan Konservatif menolak regresi, karena pada dasarnya konservatisme adalah posisi untuk tidak berubah, bukan berubah mundur. Karena itu kita bisa mengenali regresi dari dinamika sosial politik sebagai sesuatu yang melawan nesesitas ini. Sebagai contoh cepat, kita bisa melihat pada contoh fenomena terkini dari regresi.



Tanpa membicarakan lebih banyak lagi, fenomena Donald Trump dan far-rights / ultra-conservative serta IS caliphate / daesh adalah dua contoh regresi atau impuls yang muncul melawan natur dari perubahan. Keduanya adalah perkembangan yang ditolak secara serius oleh konservatif. 


Dalam kasus Donald Trump, kaum Republik mencoba bersatu untuk menjatuhkannya, walau menurut beberapa analis telah terlambat, sehingga banyak agensi konservatif akhirnya memikirkan untuk lebih baik memilih Hillary Clinton, dari pada Trump. Demikian pula dengan fenomena IS, para konservatif menolak gagasasan ISIS untuk kembali kepada kekalifahan.

Narasi yang dibawa oleh Trump adalah “make America Great Again” tidak pernah disertai jabaran yang bisa dipahami. Dukungan besar yang diterima oleh Trump lebih kepada demagoguery, sebuah perangkat retorika kuno yang memanfaatkan kelemahan sistem demokrasi, yaitu persuasi terhadap least common denominator, sebuah kelompok masyarakat pemilih yang paling gullible karena terbiarkan hidup dengan kesenjangan informasi dan pendidikan.

Sedangkan IS membawa narasi lama tentang kembalinya khilafah, tentang Islam dalam politik dunia, yang berasal dari pergulatan jaman abad pertengahan yang tidak lagi relevan, sehingga bukan merupakan kebutuhan / nesesitas orang Islam saat ini.

Anomali yang terjadi dalam wacana politik Amerika Serikat adalah ada regresi pada era kebangkitan konservatisme sejak 30an, dan secara umum, sampai saat ini. Untuk segera melihat anomali ini, kita bisa melihat pada perubahan motto negara Amerika Serikat pada akhir 50-an.



















Gambar sebelah kiri adalah motto resmi Amerika Serikat pra 1956, dengan kata E Pluribus Unum, yang dalam bahasa inggris, “Out of many, One”, atau dalam bahasa Indonesia, “Berbeda-beda tapi satu.” Orang Indonesia akan segera mengenalinya karena motto negara Indonesia adalah, Bhinneka Tunggal Ika, “Berbeda-beda tapi satu”.

Gambar sebelah kanan adalah moto resmi Amerika Serikat paska 1956, sebagai akibat dari kebangkian konservatisme Amerika, ketika kongres Amerika mensyahkan Resolusi 396, tentang perubahan motto negara menjadi “In God we trust.”



Kita bisa mengenalinya sebagai regresi atau kemunduran karena ia melanggar nesesitas dari keberadaan Amerika Serikat itu sendiri, sebagai sebuah negara baru yang didirikan oleh para founding fathers mereka untuk melayani kebutuhan agar bebas dari persekusi Agama di Eropa, dengan mendirikan sebuah negara sekuler pertama di dunia. Sehingga sekularisme, adalah nesesitas yang mendorong pendirian negara, yang dicatat dalam konstitusi mereka dengan pasal “separation of church and state”, atau pemisahan Negara dan Agama, dengan gagasan bahwa Negara tidak ikut campur, tidak mendukung atau menolak suatu kepercayaan atau agama terentu.



Pengadopsian “In god we trust” sebagai motto nasional melanggar konstitusi karena dengan demikian Negara melakukan endorsement pada sebuah kepercayaan tertentu, yaitu monotheistik, dan Amerika Serikat secara praktis telah berubah menjadi Christian Nations.



Kemenangan konservatisme AS ini kemudian berakibat fatal bagi seluruh dunia. Sejak perubahan tersebut, Amerika Serikat melakukan peran aktif dalam memulai bahkan mempengaruhi konflik global, dimulai dari akhir Perang Dunia 2, dengan dibentuknya CIA pada tahun 1957.

Kita bisa melihat bagaimana Amerika Serikat berubah: dari sebuah negara yang harus “dipaksa” Jepang untuk terjun dalam konflik global Perang Dunia II, hingga menjadi sebuah negara yang melakukan agresi ke seluruh penjuru dunia. Mulai dari konflik Amerika Selatan, Vietnam, Korea, Baltik, Timur Tengah sampai Asia Tenggara. Sesuatu yang terus berlangsung, hingga sekarang.

INDONESIA

Kelahiran Indonesia, sebagai konsep dan gagasan tentang sebuah bangsa dan negara, dapat ditarik berawal dari dua organisasi penting yang memulainya: ISDV, cikal bakal PKI, dan Sarekat Islam. Sejarah tentang Hank Sneevliet dan Tan Malaka yang komunis, serta KH. Agus Salim dan HOS Cokroaminoto yang melahirkan tiga muridnya, Soekarno sang nasionalist, Semaun sang socialist dan Kartosuwirjo sang Islamist, tidak perlu diceritakan lagi. 

Singkatnya, mereka membawa perubahan dengan memulai sebuah ruang intelektual yang menggagas sebuah bangsa bernama “Indonesia”, lengkap bersama pergulatan intelektual tentang indentitas yang, sayangnya, belum pernah selesai.

Perlu ditekankan bahwa perubahan yang mereka bawa adalah sebuah lompatan dari tipe perjuangan tribalistik dan kedaerahan, menjadi perjuangan dengan konsep nasional. Era perjuangan kedaerahan Cut Nyak Dhien, misalnya, adalah perjuangan terhadap sebuah invasi asing yang menjadi oposisi Asing vs Pribumi dan Kafir vs Islam. Seperti juga Diponegoro adalah sebuah pergulatan perebutan area kekuasaan antara pendatang Kafir vs pribumi Islam.

Gagasan Nusantara sebagai sebuah unity, atau kesatuan, dengan identitas kebangsaan yang pluralistik namun tunggal adalah tantangan yang luar biasa besar. Bahkan Amerika Serikat, sebagai unity heterogen yang pertama, masih mempunyai asosiasi dan “perasaan senasib” yang sama: pelarian dari persekusi Agama di Eropa yang mencari sebuah dunia baru. Sedangkan Nusantara praktis tidak punya “alassan” yang cukup kuat untuk membangun sebuah unity kebangsaan kecuali bahwa daerah2 tersebut sama-sama daerah adminstrasi kolonial Belanda.

Karena itu pendirian Indonesia harus dibangun berdasarkan konsep yang harus dipikirkan dan diciptakan, dan keberhasilan para founding fathers Indonesia melakukan itu--itu sendiri sudah merupakan karya besar yang belum pernah dicapai manusia2 lain sebelumnya. Soekarno dan kawan-kawan berhasil mengubah nesesitas oposisi tribalistik Kafir-Islam dan Asing-Pribumi, menjadi Penjajah-Terjajah. Mereka berhasil memberi wajah pada musuh sang penjajah, Belanda, dan wajah pada “kita” sang terjajah, orang Indonesia.

Bhinneka Tunggal Ika, konsep kesatuan pluralitas, kemudian menjadi tantangan berat dalam ruang dialektika Indonesia, ketika hal tersebut harus dikonsepsualisasikan dan kemudian dimanifestasikan kedalam perangkat-perangkat perundangan dan hukum. Terlepas bahwa mereka sudah atau belum berhasil merumuskannya, adalah sebuah kenyataan bahwa ruang intelektual yang terbangun dari perdebatan tersebut telah melibatkan dan melahirkan banyak pemikir dan filsuf.

Pengalaman filsafat barat yang merupakan produk dari ribuan tahun dialektika, kemudian tumbuh di nusantara dalam waktu puluhan tahun. Ini adalah lompatan besar intelektualitas di suatu daerah yang sebelumnya hanya mengenal wacana feodal tuan dan hamba, yang bahkan harus di-didik untuk memahami apa arti dan makna “Merdeka”.

Kenyataan yang segera meningkatkan tingkat kesulitan yang harus dihadapi para founding fathers dan negarawan saat itu, adalah pada kenyataan bahwa untuk menciptakan demokrasi, pesertanya harus cukup memahami konsepnya. Dan bagi mereka, sekian gelintir pemikir dengan mimpi besar, untuk mensosialisasikan ruang intelektual ini pada puluhan juta manusia dalam waktu singkat adalah tantangan yang luar biasa.

Walaupun pertumbuhan intelektual rakyat Indonesia pada saat itu dapat dikatakan sangat cepat dan bahkan drastis, namun harus diakui bahwa penciptaan bangsa yang hampir bisa dikatakan “instan” ini menyisakan satu aspek kerentanan. Aspek kerentanan ini, apalagi, adalah sebuah kelemahan utama sistem Demokrasi, yaitu lowest common denominator. Secara singkat, lowest atau least common denominator dalam politik adalah golongan masyarakat yang paling tidak terdidik, dengan kapasitas intelektual paling minimum. 

Least Common Denominator dalam politik paling rentan terhadap serangan Demagoguery. Arti Demagog adalah “leader of the commoners”, atau, pemimpin rakyat kecil. Karena “rakyat kecil” sebagai least common denominator adalah jumlah yang paling banyak dan paling kurang intelijen dari suatu populasi, maka serangan Demagog biasa dilancarkan pada lawan argumentasi politik dengan melakukan appeal terhadap mereka yang tidak mampu mencerna dialektika yang “intelek”. Oleh karena itu kebohongan, ketidak-jujuran dan muslihat argumen untuk menjatuhkan lawan politik jauh lebih mudah dilakukan untuk memenangkan kekuasaan dalam sistem demokrasi.

Dalam hal ini, rasa hormat yang tinggi perlu diberikan pada para cendikiawan dan politikus pada awal pembentukan Indonesia. Demagoguery, walaupun adalah “senjata” mudah dan cepat untuk mencapai kemenangan politik, tidak atau jarang terdengar dalam dialektika politik pada saat itu. Bisa dikatakan, bahwa ada budaya intelektual yang cukup tinggi untuk menciptakan lingkungan dialektika yang masih berpegang pada etika. 

Lingkungan yang etis ini berlangsung sampai suatu perubahan mencolok datang di Indonesia.

GERAKAN ANTI KOMUNIS DI INDONESIA.

Tanpa membahas sejarah G-30-S yang sudah cukup diketahui, kita dapat melihat anomali dalam perubahan regresif yang terjadi sebelum, selama dan sesudah Gerakan 30 september. Kita dapat mengamati anomali yang sama yang pernah terjadi di Amerika Serikat pada era Red Scare.

Red Scare di Indonesia, dalam berbagai bentuk dan intensitasnya, berhasil menciptakan massa yang mampu melakukan pembunuhan massal antara 500 ribu sampai 2.5 juta orang tanpa rasa bersalah. Penyiksaan yang tak terbayangkan sebelumnya. Dan stigma yang bertahan puluhan tahun hingga saat ini.



Kita melihat Demagoguery dengan skala luas dan menyeluruh—sesuatu yang tak terdapat dalam kultur politik Indonesia sebelumnya. Kita melihat narasi yang tak dapat kita hubungkan dengan satupun titik sejarah dimana gejala atau fenomena yang serupa pernah hadir. 



Gambaran Red Scare 1950 Amerika Serikat: Penggunaan imajinasi atas tubuh perempuan. Naratif ini tidak pernah ada dalam sejarah komunikasi politik dan bahkan kultur popular Indonesia pada saat itu. Namun kita menemukannya dalam meme proaganda Orde Baru tentang “perempuan gerwani yang memotong penis jenderal”. Pada tahun 1960-an, gagasan semacam ini tidak terbayangkan ada di benak orang Indonesia. 


Gerakan progresif perempuan, Gerwani, dihancurkan dan kita melihat konsep keperempuanan diganti mendadak menjadi “Dharma Wanita”. Kita dapat segera melihat Separate Sphere yang dibutuhkan untuk memenuhi interpertasi bahwa agar industri menjadi cost efficient diperlukan model pembiayaan sumber daya manusia pada public sphere saja, sedangkan perempuan yang berhabitat pada ruang domestik dipersiapkan menjadi unpaid labor. 

Gagasan ini terlihat pada social engineering yang dilakukan paska Perang Dunia II. Walaupun pemisahan gender sudah ada di Indonesia sebelumnya, namun ia lebih pada gagasan feudalistik, bukan mekanisme Industri. Ciri yang membedakan adalah bahwa pada pemisahan gender feudalistik, perempuan bukan pekerja dalam ruang domestik, melainkan memenuhi konsep “ratu” rumah tangga, yang dilayani oleh pembantu-pembantu rumah tangga. Untuk petani, perempuan dan laki-laki sama-sama bekerja di rumah atau sekitarnya, karena biasanya ladang berada tak jauh dekat rumah.

Pada konsep Darma Wanita, perempuan adalah pendukung pekerjaan suami dan/atau unpaid labor, bukan lagi “ratu” rumah tangga sebagai ciri feudal kelas menengah atau sesama pekerja sebagai ciri feudal kelas bawah. Sehingga terlepas sebagai unpaid labor atau bukan, perempuan adalah subsiten dari sang suami yang bekerja dalam industri.

Tidak ada dalam sejarah kultur Indonesia pra 1965 dimana perempuan boleh diperlakukan dengan kekerasan seperti apa yang terjadi dengan Gerwani atau dituduh Gerwani tahun 1965-66.

Sejumlah laporan kekerasan, public humiliation, serangan dan pelecehan seksual, adalah tindakan-tindakan barbaric yang tidak terpikirkan atau bahkan terbayangkan dalam kultur Indonesia. Tidak pernah ada gagasan semacam itu dalam memandang perempuan dan tubuhnya, dalam kultur Nusantara, yang seksualitasnya lebih cenderung dilihat mystical, tapi bukan banal. Karena itu bisa dikatakan bahwa tidaklah natural hal tersebut terjadi di Indonesia. Orang Indonesia pasti mempelajari gagasan itu dari tempat lain,

Dan kita bisa melihat sebuah kultur dimana hal tersebut bukan hal yang tidak mungkin terpikir.

Bersamaan dengan berawalnya Perang Dunia II, Amerika Serikat mengalami kemunculan penerbitan berbagai “majalah petualangan” khusus laki-laki, tepatnya dari pertengahan tahun 1940-an dan berakhir pada awal 1970-an. Ciri khas majalah-majalah khusus laki-laki ini adalah satu tema yang terus berulang pada setiap penerbitan dari awal hingga akhir masanya, yaitu fantasi tentang perempuan yang mengalami penyiksaan dari Nazi atau Komunis, atau perempuan Nazi atau Komunis yang menyiksa laki-laki.

Saya mengakhiri tulisan ini dengan beberapa contoh majalah-majalah tersebut.










Friday, November 13, 2015

(un)Fair Exposures. The case of 1965 Indonesian Massacre.




verdi adhanta
verdi@enlight-studio.com

For any judgement to be considered fair, each party involved as opponents in an arbitration must be given the same quantity and quality of exposure. All must have equal chance of presenting their facts, arguments, and assessments of respective body of evidence without intimidation or attempts of subterfuge, while decision process suspends all out framed, out of context presumption and allegation. These are practices to make sure that particular points of dispute stayed squarely at the proposition at hand.

International People's Tribunal of 1965 Indonesian massacre is more of an Alternative Dispute Resolution (ADR), not a conventional judicial system. An arbitration, one form of an ADR, is an alternative form of justice necessary when the conventional one isn't applicable because it either unable or failed to perform. In other words, International Tribunals are held when jurisdiction is not an instrument of justice, but instead, the enemy. It communicate a message, that no sovereignty allowed to be a sanctuary for mass murder.
 
What really are in dispute?

The world are a community of human being that took thousands of years to arrive at the current state of civilization; civilization with both written and unexpressed social contract, that the act of taking human live is not acceptable, at least not without a very strong reason or dire circumstances. It is not a thing to be taken lightly. This is, unfortunately, not set in stone. 

Any change in the state of matters in any part of the world could suddenly change the whole map of values of being a human. If somebody allowed to be murdered for no reason in one part of the globe, why shouldn't another? And if 500 thousands to 2.5 million people in Indonesia had lives so cheap that deserve a massacre, without consequences, why not other hundred thousands or millions in other jurisdiction? And that is why jurisdiction ceased being acceptable excuse when dealing with any crime that degree and extent are such of the 1965 Indonesian massacre. 

Human live and how it ought to be valued and regarded, are the first things in dispute. The continuing recognition of it, is at the stake. And this civilized world won't allow it to be undermined. The act of 1965 massacre, like any similar atrocities that unfortunately did happened, are an insult to the entire human race, and its negligence and omission, or even more, the attitude of dismissal and whitewashing, are grotesque, repulsive demonstration of what humanism must stay away from, as far as possible.  
 
Enemy of justice.

For 50 years since 1965 Indonesian government had the chance to deal with the massacre, yet, chose not to, and even suppressed attempts to disclose it. Anyone trying to did so immediately got the stigma of being a communist who are doing subversive act; implying that action to uncover the massacre are a threat to the nation. Indonesian government chose the side of the perpetrator and, by doing so, a position in favor of crime against humanity.
       
This is the position that put the government of Indonesia as enemy of justice in the war between humanity and the culture of crime that are against it. Culture which idea is that millions of life are fairly and conveniently expendable in the face of playing field of power and politics, which one single person in the modern history of Indonesia, had firmly declared that it isn't always so.

The shining example.  


Abdurrahman Wahid, known with familiar call name Gus Dur, was at the time the leader of Nahdlatul Ulama, or NU. For a leader of an organization that was a fierce political adversary to the PKI in the era of which the massacre happened, he faced really hard political communication dillema. 

Knowing that what he said will easily be used to undermine his position politically, he reaffirmed his apology for what happened to the victim of the 1965 massacre. Facing streams of political threat and criticism from enemy and colleague alike, he even gone stronger for it. He dismissed clarification attempt by his colleagues in the form of publication of "Buku Putih", and chose to stay at his position, for the victims that were, and still are, being demonized and without justice.
Gus Dur

His reason are exactly on the spot, as he hoped the apology will lift the burden of history from N.U and victims may begin to have everything what Soeharto New Order's social, political, cultural and economical prison sphere had wrongfully denied; the rights of living as a human being.  

This disregard of self political interest and honest goal of making his country more humane, was one thing that set him apart from other political characters that chose to opportunistically maintained the statusquo. He is regarded as hero by many Indonesian humanist and remembered as the one who, despite in a hard position, had brought a voice to the deafening silence of impunity.

 He understood very well that the case of 1965 massacre isn't about communist, santri, PKI, NU, or other labels that are the playing cards of the opportunists. It is solely about millions of human life being murdered with no reason, and responsibility of a government to taking care of its citizen.

What is "the government" really?
   
Is it about Jokowi? Megawati? SBY? Is it about political parties

A government is the entirety of governing body; a system that governs the livelihood, welfare and fate of its citizen. Its not just about a president with its vice and ministry. Its not about an assembly of political groups. It is a complete structure of social-political power, with its constitution, law, policies, regulation and administration and how they are function trough decision making, political processes, judicial system, monitoring, accountability, etc, as a bunch of working mechanism that must always be at its best performance to make sure that their citizen who relied on them could live the best life possible.

What it is not: a single personal with its personality that taking everything personally, and have feelings that can get insulted and feel miserable, when somebody points out what they are lacking or did wrong. And this is the "Indonesian government" that has failed millions of its citizen, which are the victims of 1965 massacre with all their families and descendants. This is the government that was brought to the International People's Tribunal of 1965 massacre. It never was personal.

This was what Gus Dur understand well. An understanding that apparently haven't yet achieved by the regime that instead of accepting with a graceful and dignified manner, have some individuals responded with vulgar, shallow and self-humiliating personal expression of butt-hurt while exclaiming payback and retaliation, for example, with an immature expression of threat to brought the Netherlands, the host country where this kind of trial usually taking place for a lot of international tribunal case, to the court.


(un)Fair Exposures.

The 2.5 millions massacred aside, this may just another bad light painted over those who managed to survive just to face 50 years of dehumanization and discrimination in the New Order's prison sphere called "bersih-sosial" (social cleanliness). Soeharto regime put the mark of ET, ex-Tapol (ex-political prisoner) on the ID card of each of those that were either imprisoned or exiled. After they finally got out, intense scrutiny on the full spectrum of their human life were everywhere and every time. For them, no political, cultural and social rights, and without any chance of jobs security as civil servant or military. Many have their wealth seized. And along with no social safety, came cultural repression.

Everyone in Indonesia, at least before the fall of Sueharto in 1998, already indoctrinated with a set of comprehensive demonization of the ex-PKI: They are fierce demon whose men killed generals, murdered Kyais and women cut the penis of those generals while dancing to the tune of genjer-genjer, a traditional Javanese song. Everything that just recently had evidences accessible by short-listed member of public, that finally understand the lies and  found instead the "creative" corrupted mind of the author behind those repulsive stories.

Ostracized and kept alone, the social gathering prohibition aren't helping. They were not able to freely met with other exTapol alike, since doing so means inviting some "guests" to visit for a nice threat and lecture event before an immediate disbandment, all because some suspicious neighbor get inspired to report just for a reward that consists of a tap in the back by an official, and a chance to bloat to other neighbors about their success in failing some communist plot.

These happened trough out their poor, constantly pressured, vulnerable life. And if that wasn't enough, the same experience shared by anyone affiliated: wive, husband, children, uncle, friends and acquaintance. Nobody wanted to get too close.
 
In the International People's Tribunal of 1965, they finally able to share. To officially be acknowledged. To be understood. Its just four days in a distant world where strange unknown people willing to sit and stand with them, against the overwhelming odds of 50 years of the New Order's unchallenged history of silence. 

Soon, in the court of real live opportunist-laden hypocritical stage of Indonesian politics, their four days of story will be pitted against the fifty years of government sanctioned "truths". (Un)Fair exposure indeed.