Monday, July 24, 2017

Melawan Kangker dengan: Kunyit

"Melawan dengan:" adalah rangkaian tulisan yang khusus membahas potensi melawan kangker dengan bahan-bahan natural (natural product), berdasarkan sains. Kita tahu bahwa banyak orang Indonesia sulit membiayai pengobatan kangker. Karena itu bahan-bahan natural yang relatif murah dan mudah diakses bisa jadi adalah harapan terakhir bagi banyak orang. Walau demikian rangkaian tulisan ini tidak ditujukan agar orang beralih dari industri pengobatan kangker yang terukur dan teruji secara saintifik (science based medicine), serta bukan juga menawarkan "bahan-bahan alami" sebagai alternatif pengobatan. Tulisan ini tidak akan menjadi kabar gembira tentang adanya suatu obat mujarab murah meriah dari dedaunan atau bunga tertentu yang seolah-olah akan menyelesaikan persoalan, seperti yang ditemukan dalam banyak artikel. Ilmu obat-obatan dan medis jauh lebih kompleks dari sekedar sebuah artikel yang Anda baca di internet. Tulisan ini tidak bermaksud menghentikan Anda berjuang mencari solusi-solusi keuangan atau bantuan untuk mengakses perawatan medis yang layak, karena layanan kesehatan adalah hak Anda sebagai manusia dan warga negara. Tulisan ini bermaksud menyebarkan informasi tentang kesempatan melawan kangker; a fighting chance, seberapapun kecilnya chance tersebut, saat Anda belum menemukan solusi ideal. Bila Anda terpaksa melawan kangker dengan cara ini, tulisan ini berusaha memastikan bahwa Anda mendapat informasi paling akurat, sehingga Anda tidak tertipu oleh banyaknya dis-informasi di era internet, dan Anda tidak membuang-buang uang yang sangat terbatas untuk hal-hal yang sebenarnya tidak bermanfaat dan malah dengan tidak bertanggung-jawab berusaha mengekploitasi kesulitan Anda untuk kepentingan pribadi.


Efek kunyit (kunir) untuk kesehatan sudah deteliti oleh sains secara luas. Begitu luasnya sampai tak mungkin menulis semuanya dalam satu artikel seperti ini. Tapi kami menyertakan link atas daftar pengujian (clinical trials) yang berhubungan dengan itu untuk diakses di sini. Lebih jauh lagi, penelitian efek teraputik kunyit bagi tubuh dapat di akses di sini.


Curcumin.

Kunyit (Curcuma Longa) atau tumeric adalah tanaman famili jahe-jahean (zingiberaceae) yaitu jenis tanaman tak berkayu (herbaceus) yang menyimpan nutrisi di dalam akar (rhizomatous). Di Indonesia, kata kunyit biasa merujuk pada akar tersebut. Zat phytochemical di dalam kunyit yang dibicarakan di sini, khususnya, adalah curcumin (diferuloylmethane). Phytochemical adalah sebutan untuk zat kimia yang dihasilkan secara natural oleh tanaman dan kunyit tidak hanya mengandung curcumin, melainkan juga senyawa lainnya. Dafar phytochemical di dalam kunyit yang telah diidentifikasi dapat Anda lihat di sini, atau di sini.



Curcumin adalah sejenis polyphenol atau disebut juga polyhidroxyphenol, yaitu sebuah kelas struktur kimia yang dapat diproduksi secara alami maupun sintetis. Ia diketahui bersifat bio-active, artinya menampakkan aktifitas biologis. Phenol lainnya yang dihasilkan secara natural, contohnya, adalah cannabinoids (cannabis), capsaicin (cabai) dan sebagainya. Curcumin dalam hal ini punya sifat pleiotropic, artinya punya efek luas atau tidak terbatas pada satu efek saja. Karena itu efek curcumin pada tubuh diteliti secara ekstensif.

Sifat positif curcumin melawan kangker ditunjukan secara klinis pertama kali tahun 1987, dimana curcumin dari kunyit didemonstrasikan mereduksi bengkak pada kerusakan jaringan (lesions) akibat kangker pada 90% kasus. Perbaikan luka kering akibat kangker diobservasi pada 70% kasus. Dan 10% pasien mengalami pengecilan luas kerusakan. Sejak saat itu berbagai uji klinis dan pengujian lainnya telah dilakukan terhadap kasus-kasus kangker usus, kangker payu dara dan sebagainya.

Menghambat pertumbuhan sel kangker.


Pengujian terhadap efek curcumin sebagai salah satu cara terapi kangker menemukan banyak fakta, tapi secara umum gagasannya adalah bahwa curcumin bekerja dengan "memodulasi sejumlah jalur persinyalan sel" yang adalah bagian dari proses perkembang-biakan sel kangker. Artinya curcumin melawan kangker dengan menganggu proses yang vital bagi keberlangsungan sel kangker. Tidak hanya kangker, curcumin juga disebut punya efek positif atas gangguan cardiovascular (jantung), rematik, gastric imflamation (gejala maag), diabetes, beta-thalasemia, infeksi bakteri dan sebagainya. Ia juga bersifat menjaga kesehatan hati dan organ secara umum, dan bersifat aman, tidak beracun dan dapat ditolerir dengan baik oleh tubuh manusia.

Berikut adalah tabel pengujian klinis terhadap terapi curcumin untuk penderita kangker. Anda dapat mengunjungi tabel ini secara online dan melanjutkan browsing pada tiap-tiap uji klinis di sana dengan mengklik link yang ditandai dengan angka pada tiap-tiap item yang terdaftar.

Dosis dan pemakaian.


Hanya karena curcumin berasal dari tetumbuhan dan diproduksi secara natural, bukan berarti tidak ada takaran, batasan atau pasti tidak ada efek sampingnya. Bagaimanapun curcumin adalah bahan kimia yang berinteraksi dengan organ-organ dalam tubuh manusia, tak peduli ia dibuat secara sintesis di laboratorium ataupun muncul secara alamiah di alam.


Dalam sebuah penelitian terapi curcumin sebagai kombinasi dengan kemoterapi docetaxel terhadap pasien kasus kangker payudara metastasis, misalnya, ditemukan dosis maksium 8 gram per hari untuk seminggu berturut-turut, dengan saran dosis 6 gram per hari.


Seseorang tidak perlu sepenuhnya memahami cara kerja kimia, interaksinya dan efeknya dalam tubuh. Yang perlu adalah kesadaran bahwa apapun yang dilakukan perlu konsultasi dokter, terutama dokter yang menangani kangker secara spesifik. Dokter telah terlatih untuk membaca statistik, data dan sejarah medis yang dicatat dari tubuh seseorang dan dia tahu cara menerjemahkan dan menindaknya. Kemudian dia punya kewajiban menjelaskan apa yang terjadi. Orang bisa jujur menjelaskan situasinya, bila--misalnya--tidak ada rencana keuangan yang memadai untuk rangkaian pengobatan tertentu, sehingga kemudian memikirkan untuk menerapkan terapi kunyit ini. Bila perlu orang bisa merujuk jurnal2 penelitian yang disertakan linknya dalam tulisan ini pada sang dokter untuk dengan tepat menjelaskan apa yang dimaksud. Tapi intinya, apapun yang akan dilakukan, langkah pertama haruslah konsultasi dengan dokter.


Pharmacokinetics: penyebab curcumin kurang efektif.


Jejaring vein hepatic portal system: saringan alami tubuh
Walaupun cukup banyak evidence yang menunjukan bahwa kunyit punya potensi melawan pertumbuhan sel kangker, namun kita tidak segera menemukan pil kunyit yang dipasarkan sebagai obat kangker di apotik yang berasal dari science based medicine. Pil kunyit yang ada di pasaran adalah bagian dari industri suplemen, bukan obat-obatan. Ini karena efektifitas curcumin sebagai obat kangker masih belum konklusif. Dan penghambat curcumin yang diketahui adalah metabolisme tubuh kita sendiri. 

Bagaimana muatan dalam produk obat bergerak di dalam tubuh disebut pharmacokinetics. Obat biasanya dikonsumsi secara oral, alias melalui mulut. Begitu ditelan senyawa-senyawa yang dibawanya harus melewati "saringan" alamiah dalam tubuh, yaitu hepatic portal system. Sistem ini, yang terdiri dari jejaring lambung, usus dan liver, adalah sebuah dinding diskriminatif. Tidak semua hal yang ditelan akan dibiarkan masuk sirkulasi darah. Liver akan menganggap banyak senyawa, natural maupun tidak, sebagai racun atau tidak berguna, dan kemudian dibuang melalui air kencing ataupun buang air besar. Saat orang mengkonsumsi curcumin atau obat-obatan tradisional dengan niat mengobati, sayangnya sang liver tidak tahu niat itu dan akan menganggap obat-obatan tersebut racun lalu membuangnya. Hal yang menentukan kemampuan suatu substansi untuk diserap ke dalam sirkulasi sistem biologis ini disebut Bio-Availability (BA).  
Dasar cara kerja hepatic portal system.

Perancang obat modern tahu hal ini melalui pharmacology dan telah meneliti cara agar senyawa kimia yang direncanakan masuk ke dalam sirkulasi darah dapat "melewati" sistem saringan hepatik, sedangkan obat-obatan tradisional yang umumnya dibuat tanpa pengetahuan pharmacokinesis tidak punya strategi tersebut. Akibatnya, obat-obatan tradisional ini hanya akan membebani sistem liver tanpa pernah menyentuh organ yang sakit. Ini mengapa dokter cenderung tidak menyarankan pengobatan tradisional; bukan karena konspirasi farmasi, tapi karena tahu bagaimana cara tubuh manusia bekerja.

Khususnya untuk curcumin, Bio-Availability-nya ditemukan rendah, dan kenyataan ini menyebabkan dunia medis pada prinsipnya masih berkesimpulan bahwa curcumin dari kunyit tidak memiliki kegunaan medis. Walaupun demikian, penelitian masih berlanjut untuk memahami interaksinya dan bagaimana cara terbaik untuk mengirimnya masuk ke dalam sirkulasi tubuh melewati portal hepatik. Keengganan para peneliti untuk berpaling ini karena kunyit punya potensi sebagai bahan obat yang mampu memerangi kangker secara masal, karena ia relatif murah dan mudah diproduksi, sehingga masyarakat yang kurang berada bisa juga punya kesempatan setara untuk selamat dari kangker.

Sayangnya, dengan mengetahui sejumlah fakta ini, ada pula orang yang malah bertindak tidak bertanggung-jawab dengan berpura-pura paham dan menipu orang lain yang sebenarnya membutuhkan perawatan medis, dengan membuka praktek dimana ia seolah-olah paham ilmu pengobatan dan ini sering berakibat fatal. Contoh ada sebuah kasus dimana seorang yang menyandang sebutan "Naturopath" (sebuah bidang palsu yang tidak punya latar belakang saintifik sama sekali, tapi seolah-olah demikian--sebuah fenomena yang disebut pseudoscience alias sains palsu) mengira bahwa ia dapat melewati portal hepatik dengan menyuntikan langsung cairan kunyit ke dalam darah. Pasien tersebut kemudian tewas akibat tindakan tidak bertanggung-jawab tersebut.

Pada awal tahun 2017, sejumlah peneliti dari beberapa universitas dan institusi penelitian menerbitkan paper di Journal of Medicinal Chemistry (JMC) yang mengkritisi banyaknya penelitian tentang curcumicin tanpa hasil yang konklusif. Walaupun begitu banyak pengujian dan penelitian melibatkan curcumicin dan potensi medisnya, tidak satupun yang dilakukan berdasarkan rancangan penelitian komprehensif yang melibatkan prinsip fundamental "gold standard" dalam penelitian ilmiah seperti double-blind test.

Seluruh penelitian yang dilakukan tentang efek curcumicin selama ini hanya memanfaatkan sampel, kendali dan placebo yang adalah single blind, yaitu hanya membutakan peserta tes (dalam hal ini, pasien), tapi tidak membutakan pelaku tes (peneliti). Artinya penelitian tersebut tidak dirancang untuk menghilangkan bias sang peneliti atas ekspektasi terhadap subyek pengujian dan hasil uji. Standar double-blind dalam metodologi penelitian ilmiah mengaruskan peneliti untuk juga dibutakan, artinya penguji tidak boleh tahu mana substansi uji dan pasien yang menerima sampel, kendali dan placebo. Sehingga baik pelaku pengujian dan peserta uji / pasien sama-sama "buta" terhadap material-material yang tengah diujikan.

Walaupun demikian, para peneliti tersebut juga tidak menutup kemungkinan bahwa kunyit masih punya kesempatan untuk jadi kandidat penyedia phytochemical yang berguna bagi kesehatan. Sifat penelitian2 selama ini berkonsentrasi pada curcumicin yang diisolasi dan diekstrak dari kunyit, dan menurut mereka, seringkali phytochemical punya efek melalui interaksi antara senyawa-senyawa yang bisa jadi tidak ikut teruji karena penelitian dan pengujian hanya dilakukan pada ekstrak curcumicin dari kunyit.

Oleh karena itu, mereka menyarankan agar penelitian dan pengujian tentang kunyit di massa depan dirancang dengan lebih baik, mengikuti double-blind test, dan dilakukan lebih menyeluruh pada kunyit itu sendiri, bukan hanya pada ekstrak curcumicin-nya.

Lada hitam dan peningkatan bio-availability (BA) pada curcumicin.

Khususnya untuk persoalan bio-availability, walaupun tidak secara khusus menghubungkan peningkatan kapasitas curcumicin sebagai terapi kangker, telah ada pengujian yang menunjukkan bahwa piperine, senyawa alkaloid yang terdapat dalam lada hitam yang sejak tahun 1985 telah diketahui sebagai penghambat metabolisme obat, mampu meningkatkan bio-availability dari curcumicin pada manusia dan tikus hingga 2000%. Piperine diketahui membatasi kerja glucuronidation, yaitu kerja xenobiotic metabolism dalam sistem hepatik; saringan tubuh manusia. Dalam xenobiotic metabolism, sistem hepatik memecah struktur zat-zat "asing" yang masuk melalui mulut (makan atau minum), dan ini melindungi manusia dari hal-hal seperti racun, bahan polutan, macam-macam asam lemak dan, sayangnya dengan demikian juga, obat.

Dengan kata lain, piperine dari lada hitam mampu meningkatkan kesempatan masuknya curcumicin dalam sirkulasi darah dengan menghambat kerja saringan portal hepatic yang sebenarnya berfungsi untuk menyaring racun yang masuk secara oral (dimakan atau diminum). Artinya piperine tidak secara khusus mengizinkan lebih banyak curcumicin "lewat" portal hepatic tubuh manusia, tapi juga mengizinkan lebih banyak zat asing yang seharusnya tersaring.

Kesimpulan.

Sekarang kita sudah tahu lebih banyak tentang kunyit, curcumicin--phytochemical yang dikandung kunyit, persoalan bioavailaibility-nya yang rendah sehingga membuatnya tidak efektif melawan kangker, banyaknya persoalan dalam pengujian curcumicin selama ini, dan piperine yang memungkinkan naiknya bioavailability curcumicin dengan melonggarkan jaringan hepatic yang krusial untuk melindungi tubuh orang dari zat asing / racun.

Jika Anda orang yang tetap tertarik dengan temuan-temuan sebelumnya tentang kunyit dan melihat ini sebagai satu-satunya praktek yang memungkinkan, maka saran-saran yang dapat dipertimbangkan adalah sebagai berikut:


  1. Konsultasi dengan dokter. Apapun situasinya, harus tetap berkonsultasi dengan dokter. Jelaskan situasi Anda secara jujur dan terbuka. Ungkapkan apa yang ada dalam pikiran Anda dan rencana Anda untuk mengambil "cara-cara lain" dan konsekuensi apa yang mungkin Anda hadapi. Bila dokter Anda mengatakan: "Jangan", turutilah sepenuh hati. Untuk persoalan kesehatan tubuh, dokter Anda jauh lebih mungkin untuk lebih tahu dari Anda sendiri.
  2. Produksi sendiri ekstrak kunyit Anda dan gunakan lada hitam. Anda tidak pernah tahu apa isi sebenarnya dari produk yang dijual sebagai suplemen nutrisi, karena ia adalah industri yang berbeda dengan obat. Mereka tidak dalam standar yang sama. Jauh lebih baik menggunakan kunyit yang dibeli sendiri dari pasar karena selain lebih pasti, juga lebih murah daripada produk suplemen. Lada hitam diketahui mengandung piperine yang meningkatkan bio-availability dari zat-zat kunyit di dalam tubuh Anda, sehingga membuatnya tidak dibuang percuma oleh sistem portal hepatik. Sehingga ekstrak kunyit lebih baik disertai lada hitam.
  3. Jangan menyerah mencari pengobatan kangker secara medis. Jika Anda telah mencapai rasa aman dan harapan setelah menjalankan terapi kunyit, jangan berhenti di situ. Kesehatan adalah hak Anda yang harus dijamin negara. Kejar akses kesehatan dengan berbagai cara. Anda bisa menggalang organisasi mengumpulkan rekan-rekan sesama penderita untuk mengadvokasi perhatian terhadap situasi Anda. Atau Anda bisa menempuh jalan fund-rising, menghubungi lembaga swadaya masyarakat atau organisasi yang aktif di bidang tersebut, yang bisa membantu Anda mendiskusikan jalan keluar dari situasi yang menjepit.
Selain tidak menyerah memperjuangkan kesehatan Anda, yang perlu diingat adalah banyak orang tidak bertanggung-jawab di luar sana yang justru akan memanfaatkan penderitaan dan keresahan Anda untuk dieksploitasi demi keuntungan pribadi, terutama uang. Jangan tertipu oleh "jalan keluar" atau solusi yang seolah-olah mudah. Hal ini termasuk banyak pihak yang menawarkan "pengobatan alternatif". Teliti dan selidiki bahwa tidak ada "obat alternatif". Bila "obat alternatif" tersebut memang bekerja, maka ia tidak akan disebut "alternatif", melainkan "obat" saja.