Tuesday, July 18, 2017

Praktek Ladang berpindah belum tentu salah

Sebuah penelitian dari Center for International Forestry Research, CIFOR, yang dipublikasi di Jurnal PLOS (Public Library of Science), memperlihatkan sudut pandang baru bahwa praktek pertanian tradisional rakyat Indonesia, yaitu Ladang Berpindah yang sering dianggap terbelakang dan membahayakan hutan, mungkin tidak seburuk yang digambarkan dalam wacana publik dan narasi politik ekologi yang sering disuarakan.

Dalam wacana publik dan diskusi politik-ekologi Indonesia, praktek tradisional pertanian subsisten (pemenuhan sendiri) ini seringkali disalahkan sebagai penyebab kebakaran hutan. Tradisi ini juga dianggap praktek primitif yang tidak punya sophistikasi dan skala seperti sistem agro-industri modern yang melibatkan kapital besar. Namun kapital besar punya implikasi ketidak-adilan akses terhadap sumberdaya yang dibutuhkan untuk pemenuhan kebutuhan pangan, sementara kapital umumnya dimiliki oleh individual yang sekaligus pemilik lahan.

Dalam kasus hipotetikal dimana model produksi agro-industri modern mampu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat secara menyeluruh baik dilihat dari segi nutrisi maupun daya beli, maka model agro-industri modern mungkin bisa dianggap terjustifikasi penuh. Pada kenyataanya, dalam latar belakang penelitian CIFOR ini diketahui 100 juta orang atau 40% populasi penduduk Indonesia mengalami ketidak-terpenuhan kebutuhan micronutrient.

Kekurangan Mikronutrien dalam diet sehat.

Micronutrient adalah zat-zat nutrisi untuk memenuhi diet sehat yang dibutuhkan tubuh manusia, diantaranya mineral seperti iodium, zat besi, zinc, kalsium, selenium dan fluorine, serta vitamin seperti vitamin A, B6, B12, B1, B2, B3 dan C. Zat-zat ini diperlukan untuk keseimbangan diet. Kekurangan mikronutrien akan menyebabkan suatu spektrum masalah pertumbuhan (anak) dan kesehatan yang luas dan beragam.

WHO mencatat cakupan luas permasalahan kesehatan dan pertumbuhan akibat defisiensi mikronutrien ini, khususnya zat besi, yang mempengaruhi lebih dari 30% populasi dunia. Problem kesehatan khususnya Anaemia mempengaruhi perempuan hamil dan 40% balita di seluruh dunia, yang kemudian mengakibatkan berbagai kerentanan diantaranya terhadap infeksi cacing (cacingan), malaria, HIV dan TBC. Defisiensi mikronutrien juga menyebabkan kehamilan yang buruk bagi perempuan, sehingga anak yang dilahirkan mengalami kecacatan perkembangan fisik dan mental, dengan peningkatan resiko kematian anak serta penurunan produktifitas pada orang dewasa.


Maka jelas bahwa kekurangan mikronutrien adalah ancaman bagi ketahanan pangan dari hampir setengah penduduk Indonesia, dan dalam konteks keterbatasan lahan produksi, kebijakan pemerintah dalam hal penggunaan lahan akan punya konsekuensi yang genting untuk didiskusikan.

Lahan berpindah sebagai kegiatan subsisten.

Hampir seluruh pemerintahan di dunia menganggap kegiatan ladang berpindah, atau yang sering disebut dengan istilah dengan makna peyoratif "slash-and-burn", adalah kegiatan yang harus dimusnahkan. Di Indonesia, wacana publik yang dibangun lewat komunikasi politik ekologi nasional menggambarkan ladang berpindah sebagai penyebab kebakaran hutan.

Hal ini lebih merupakan pandangan yang menggeneralisir atau bahkan seringkali pula adalah sebuah ketidak-adilan representasi argumen dalam wacana publik, karena masyarakat tradisional pelaku pertanian subsisten tidak cukup kapasitas untuk ikut serta di dalam wacana, walaupun padahal mereka adalah subyek penting yang seharusnya punya andil di dalamnya.

Pada kenyataanya, praktek ladang berpindah punya keunggulan dalam hal ketahanan pangan, baik secara ekologi maupun ekonomi:

Pertama; agrikultur modern mengandalkan varietas tertentu yang dikembang-biakan secara homogen untuk mencapai target yields (hasil produksi) tertentu yang berorientasi pada kuantitas dan pemenuhan pangan, yang bisa juga dibaca sebagai profit, namun ini membutuhkan kendali ketat terhadap seleksi dan genetic drift yang secara genetis mengurangi variasi dalam gene-pool spesies kultur yang diproduksi. Sedangkan praktek ladang berpindah mengandalkan kerja ekosistem yang secara natural me-reintroduksi variasi ke dalam gene-pool spesies, sehingga apabila dilihat secara genetis, ladang berpindah justru adalah model produksi yang lebih berketahanan dan ramah lingkungan dalam hal diversitas genetik dalam ekosistem.

Kedua; bagi para pelaku ladang berpindah memungkinkan praktek yang lebih adaptif baik terhadap situasi perubahan lingkungan atau pasar. Ditengah situasi perubahan iklim, ini adalah sebuah keunggulan. Karena skalanya kecil dan bergantung tempat, petani ladang berpindah punya pilihan untuk mengubah atau mendiversifikasi varietas yang ditanam, sehingga mereka punya akses terhadap diet beragam.

Ketiga; lokasi tinggal petani substinen dekat dengan hutan, memungkinkan akses langsung terhadap hasil hutan.

Budaya industri agrikultur dan beban sejarah.

Bahan pangan hasil hutan seperti buah, sayur, ikan dan sebagainya, cenderung punya kualitas mikronutrien yang lebih baik terutama untuk diet rendah lemak dan berserat, sedangkan agrikultur modern, paling tidak di Indonesia, biasanya terbatas pada jenis-jenis varietas industri tertentu yang masih membutuhkan tambahan variasi bahan pangan lain untuk melengkapi diet sehat. Artinya pengeluaran untuk konsumsi makanan pokok masih harus ditambah dengan pengeluaran untuk nutrisi tambahan. Dalam skema hidup urban dengan pola pemasukan-pengeluaran tertentu ini mungkin dapat memenuhi kebutuhan diet, tapi untuk 40 persen penduduk Indonesia yang dibicarakan di sini, ini menjadi masalah.

Masalah ini berasal dari kultur makanan dan kultur industri bahan pangan di Indonesia yang punya sejarah rejim diet yang dibudayakan pada masa Orde Baru (empat sehat lima sempurna) untuk mengejar ketercukupan makanan pokok tanpa perspektif pemahaman diet sehat yang benar. Pengaruh ini menetap pada budaya industri agrikultur, yang menyebabkan jenis sumber makanan yang padat konten mikronutrien, seperti buah-buahan, jauh lebih mahal dari sumber makanan pokok seperti beras dan umbi-umbian; kemana dulu Orde Baru menekankan fokus. Akibatnya, kenyataanya, 40 persen penduduk Indonesia mengalami defisiensi mikronutrien terutama zat besi, vitamin A, zinc dan iodium. Masalah juga timbul dari naiknya gangguan kesehatan masyarakat yang tengah transisi kultur gaya hidup dan kebiasaan diet, sehingga terjadi masalah ganda; malnutrisi dan overnutrisi pada saat yang sama.

Ladang berpindah.

Pertanian subsisten ladang berpindah dikenal dengan pembukaan lahan untuk tanaman pangan tahunan dan semi-tahunan, lalu pendiaman (fallow) dimana lahan digarap tapi sengaja tidak ditanami untuk memberi kesempatan nutrien tanah kembali secara natural, sementara sebuah area hutan yang lain dibuka secara terbatas. Proses ini berulang-ulang membentuk siklus.

Penelitian CIFOR dilakukan dengan pengamatan terhadap proses ini. Ada 3000 observasi yang dilakukan di 25 provinsi di seluruh Indonesia, dan penelitian ini menemukan hubungan antara kualitas diet masyarakat dengan perilaku pertanian subsisten pada daerah-daerah ladang hutan pada level provinsi, walaupun belum sepenuhnya konklusif, dimana masyarakat pelaku pertanian subsisten menunjukan pola konsumsi yang lebih kaya mikronutrien. Para peneliti ini menyatakan bahwa dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk memahami mekanisme yang menghubungkan pola pertanian ini dengan konsumsi mikronutrien tersebut.

Pada provinsi-provinsi yang didominasi oleh pola pertanian perladangan berpindah, tampak perladangan berpindah di hutan alami dan hutan semi-alami memproduksi makanan dengan kualitas nutrisi yang lebih baik dibandingkan perkembunan kelapa sawit dan hutan kayu. Pelaku ladang berpindah juga lebih banyak mengkonsumsi nutrisi dari bahan makanan hewani, yang padahal adalah jenis bahan makanan yang secara umum dikonsumsi secara terbatas di Indonesia.
 
Temuan ini penting untuk dipahami oleh pengambil kebijakan. Strategi agrikultur Indonesia selama ini melihat produk perkebunan (plantation) semacam kelapa sawit, karet dan kopi sebagai komoditi penting untuk menekan kemiskinan dan memperbaiki kualitas hidup di Indonesia, dengan asumsi bahwa pendapatan per kapita yang lebih tinggi akan otomatis berdampak pada diet yang lebih baik.

Dalam narasi agroindustri Indonesia, ketahanan pangan ditekankan pada beras sebagai bahan pokok, dan dengan demikian, sebagai sumber utama kalori. Tapi pada kenyataanya, peningkatan produksi beras tidak menyelesaikan masalah luasnya masalah defisiensi mikronutrien di Indonesia. Pendekatan kebijakan untuk mengatasi masalah ini cenderung pada program-progam suplemen mikronutrien dan kerjasama dengan swasta tanpa benar-benar mempertimbangkan kualitas diet dalam pola konsumsi. Sehingga ia lebih tampak seperti tambal sulam daripada pendekatan yang komprehensif dan mengakar.