Tuesday, July 18, 2017

Sampah seluas 117 kali pulau Jawa di Laut Pasifik.


Kumpulan sampah seluas 117 kali pulau Jawa.


Gambar ini bukanlah gunungan sampah di suatu sungai. Ini, kenyataanya, adalah sebuah area tumpukan sampah di samudra Pasifik seluas 700,000 sampai 15 juta kilometer persegi, atau--untuk lebih baik lagi memahami ini--berkisar antara 4.5 sampai 117 kali luas pulau Jawa, yang dikenal dengan sebutan "The Great Pacific Garbage Patch". Di sini, sampah populasi manusia di dunia terkumpul dalam sebuah lingkaran raksasa yang diameternya membutuhkan waktu lebih dari dua hari dua malam untuk dilintasi kereta eksekutif Argo Bromo.

Ukuran ini begitu masif hingga menutup 0.4 - 8 persen luas samudra Pasifik. Luas tersebut adalah estimasi berdasarkan sampling, karena sifat sampah yang tidak selalu berada di permukaan membuatnya sulit diamati melalui satelit. Sampling dilakukan dengan pengukuran populasi Pleuston, binatang2 kecil yang hidup di permukaan air di areal sampah, serta penggunaan Manta Trawl, sebuah alat riset permukaan laut berbentuk ikan Pari yang ditarik dibelakang kapal.

Dalam sebuah jurnal penelitian yang diterbitkan di PLOS, diketahui bahwa kumpulan sampah ini terdiri dari paling tidak 5.25 trilyun partikel plastik dengan berat 268,940 ton, melalui sampel yang diambil di 1571 titik di Samudra Pasifik. Sebesar 60% dari material plastik terdiri dari buangan aktifitas perikanan seperti bekas pelampung, jaring, dan sebagainya. Dan laporan EPA, organisasi pemerintah Amerika Serikat untuk lingkungan, menyebutkan sampah ini berasal dari buangan limbah manusia di daratan, melalui sungai, pantai, pelabuhan, dan saluran pembungan (got) di sepanjang pesisir, akibat praktek manajemen sampah dan barang bekas yang buruk atau pembuangan sampah illegal. Sampah dari wilayah pantai Amerika Utara membutuhkan 6 tahun untuk tiba di pusaran sampah raksasa ini, sedangkan yang berasal dari wilayah pantai timur Asia hanya membutuhkan 1 tahun atau kurang. Kepadatan sampah diukur pada tahun 1999 adalah 335,000 item per kilometer persegi, dengan berat 5.1 kilogram per kilometer persegi, dan ini adalah peningkatan 10 kali lipat dibandingkan dengan pengukuran dari sampel yang diambil tahun 1980.
5 Pusaran Laut di Bumi

Fenomena pengumpulan di tengah Samudra ini terjadi karena sampah terbawa arus masuk ke dalam apa yang disebut pusaran laut, atau Ocean Gyre. Diketahui ada 5 pusaran laut utama di Bumi, dan pusat pusaran sampah ini terletak pada North Pacific Gyre yang terletak di arah timur laut Indonesia.

Karena bersifat pasif mengikuti Arus, sampah-sampah ini kemudian terjebak dalam putaran arus laut North Pacific Gyre, dan karena itu dikenal dengan sebutan North Pacific Garbage Patch (Area Sampah Pasifik Utara), yang pencemarannya kemudian menjadi ancaman bagi kehidupan laut dan juga manusia yang membutuhkan produk laut untuk konsumsi.

Plastik adalah material yang sulit untuk terurai, oleh karena itu sampah yang mencemari samudra Pasifik ini hanya pecah menjadi partikel polymer plastik melalui proses yang disebut photodegradation. Dalam proses ini, sampah plastik berinteraksi dengan sinar ultraviolet dan oksigen di permukaan laut menjadi partikel hingga seukuran molekul, dan terkonsentrasi di daerah permukaan, sehingga kemudian ikut termakan oleh organisme laut di sana.

Area permukaan laut yang terkontaminasi partikel polymer ini, dalam ekosistem laut, disebut juga area neustonic, yaitu pusat sumber makanan bagi organisme laut, dan dari sini partikel polymer sampah manusia ini masuk ke dalam lingkaran rantai makanan. Artinya senyawa beracun hasil dekomposisi plastik ini, seperti bisphenol A, PCB dan kimia turunan2 polystyrene, menjadi satu dengan sumber makanan yang pada akhirnya juga dikonsumsi oleh manusia.

Karena partikel polymer beracun yang mencemari rantai makanan ini berukuran mikroskopik, maka mereka tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, walaupun konsentrasi pencemaran laut oleh partikel polymer saat ini telah mencapai 7 kali lipat jumlah zooplankton. Artinya dalam satu bagian air laut yang diambil, perbandingan isinya adalah 7 bagian partikel sampah plastik, dan 1 bagian zooplankton.

Partikel sampah plastik ini kini ditemukan dalam perut binatang laut yang bergantung pada areal neustonic untuk sumber makanan seperti ikan, penyu, dan juga 1.5 juta burung Laysan Albatross di Midway. Sekitar 1/3 anak-anak burung ini mati karena induknya memberi mereka makanan yang tercemar partikel plastik.

Partikel sampah plastik yang mikroskopik ini, lebih parah lagi, punya sifat menghisap racun-racun organik dari air laut seperti DDT dan PAH. Artinya partikel sampah plastik tidak hanya sendirian masuk ke dalam tubuh hewan yang mengkonsumsinya, melainkan juga racun-racun yang terserap selama berada di laut. Racun-racun ini, selain punya efek beracun, juga menipu sistem endokrin yang menganggapnya sebagai estradiol, yang kemudian menyebabkan gangguan hormonal pada hewan.

Salah satu hewan laut yang gemar menyantap campuran plankton dan racun ini adalah ubur-ubur, yang adalah makanan ikan yang kemudian dikonsumsi oleh manusia. Partikel sampah plastik dan racun-racun yang diserapnya tersebut akhirnya ikut masuk ke dalam tubuh manusia, dan efek yang ditimbulkannya sama dengan yang terjadi dalam tubuh hewan lainnya.

Sampah dan racun plastik ini, karena ukurannya yang bisa sekecil molekul, adalah persoalan besar yang belum ada solusinya. Karena tidak seperti sampah ukuran besar yang--bilapun ada kemauan untuk menanggulanginya--dapat dipisahkan dari air laut, "microplastic" ini telah menjadi bagian dari lingkungan laut.

Hingga saat ini, para stakeholder yang menggiati urusan penanggulangan sampah lautan ini masih baru dalam taraf menaikkan perhatian terhadap isu ini secara internasional. Dan hingga suatu saat nanti ketika manusia akhirnya cukup peduli untuk mau dan mampu untuk membersihkan sampah mereka dari samudra Pasifik, manusia, bersama hewan-hewan lainnya, masih harus menikmati sampah plastik yang mereka buang sendiri ke lautan.